Back to @na_dirs's profile

Nadirsyah Hosen engagement report

@na_dirs - 464K followers on X

Measured over 2 original posts from a 30-day window, last computed on August 29, 2026.

Engagement

Per follower
0.019%
of 464K followers
Per impression
1.15%
7.6K views on a typical post
Reach
1.64%
of its followers see a post
Typical post
88
interactions (median)
Saved
0.105%
8 bookmarks on a typical post
Posting rate
0.23/day
active 17% of days
Peak time
03:00 UTC
Sunday

Early reading. We have captured 2 original posts for this account, below the 8 we require before treating a median as settled. The numbers above describe what we have seen so far, not a finished profile of the account.

A typical post picks up 88 interactions against 464K followers, an engagement rate of 0.019%. Posts are seen about 7.6K times each, and 1.15% of those impressions turn into an interaction. That is about 1.64% of the follower count, which is the gap between an audience on paper and an audience in a timeline. Posting runs at about 0.23 posts a day over the last 30 days, though only 17% of days saw any activity at all. Most posts go out around 03:00 UTC, and Sunday is the busiest day of the week. Of the 2 posts sampled, 100% carry an image or video. The account's strongest tracked post pulled 304K interactions, about 3457x its own typical post. Only 2 original posts have been captured so far, fewer than the 8 posts we want behind a median before treating it as settled. Read the figures above as an early measurement of this account, not as a finished profile of it.

Measured over 2 original posts from a 30-day window, last computed on August 29, 2026.

Where this sits in the catalog

At 0.019%, Nadirsyah Hosen sits above the 25th percentile of the 36,654 accounts in this comparison. That places it in the below the median band, which runs 0.012% to 0.08%.

p100.002%
p250.012%
p50 (median)0.08%
p750.433%
p902.10%
p99160.5%
Engagement rate as a share of followers, across the 36,654 accounts we have scanned enough to measure. The axis is logarithmic, because the top and bottom of this population are about 106,977 times apart and a linear axis would flatten everything below the median into a single point.
Show the percentile table
Engagement rate percentiles
PercentileEngagement rate
10th percentile0.002%
25th percentile0.012%
50th percentile0.08%
75th percentile0.433%
90th percentile2.10%
99th percentile160.5%

This ruler is the whole measured catalog, not a size-matched group: it shows where the raw rate falls across every account we can measure, all of which are large. For a like-for-like comparison, read the size-band percentile above instead. See how the bands are built

Posting timing

This account posts most often around 03:00 UTC, and Sunday is its busiest day of the week. The bars below are the catalog-wide pattern, with this account's own busiest slot marked. They do not show how this account performs at each hour: we keep one aggregate per account, not one per hour, so that measurement does not exist in our data.

Engagement by hour posted, UTCTwenty-four bars, one per UTC hour. Each bar shows how posts published in that hour compare with their own authors' median engagement. Bars above the centre line ran higher than the median, bars below ran lower. A marker flags Busiest hour: 03:00 UTC.
0003060912151821
Above the authors' own mediansBelowScale: plus or minus 6%Busiest hour: 03:00 UTC
Show engagement by hour posted, utc as a table
Engagement by hour posted, UTC
Hour (UTC)Vs author medianPosts
00:00 UTC-1%51K
01:00 UTC-2%52K
02:00 UTC-3%50K
03:00 UTC-4%53K
04:00 UTC-6%43K
05:00 UTC-4%42K
06:00 UTC-4%48K
07:00 UTC-5%52K
08:00 UTC-4%61K
09:00 UTC-3%70K
10:00 UTC-2%72K
11:00 UTC-3%78K
12:00 UTC-2%86K
13:00 UTC-2%94K
14:00 UTC-4%97K
15:00 UTC-2%101K
16:00 UTC-3%98K
17:00 UTC-2%91K
18:00 UTC-1%85K
19:00 UTC-1%80K
20:00 UTC-1%74K
21:00 UTC-1%66K
22:00 UTC-1%57K
23:00 UTC-2%52K
Engagement by day of weekSeven bars, one per weekday, Sunday first. Each bar shows how posts published on that day compare with their own authors' median engagement. Bars above the centre line ran higher than the median, bars below ran lower. A marker flags Busiest day: Sunday.
SunMonTueWedThuFriSat
Above the authors' own mediansBelowScale: plus or minus 5%Busiest day: Sunday
Show engagement by day of week as a table
Engagement by day of week
DayVs author medianPosts
Sunday+4%231K
Monday0%288K
Tuesday-2%278K
Wednesday-1%251K
Thursday-1%245K
Friday-3%253K
Saturday+3%227K
See what moves engagement across the whole catalogWhat counts as a good engagement rate at this size

Best tweets

  • May 16, 20263457x their median

    I have witnessed this club go from doubters to believers, and from believers to champions. It took hard work and I always did everything I could to help the club get there. Nothing makes me prouder than that. Us crumbling to yet another defeat this season was very painful and not what our fans deserve. I want to see Liverpool go back to being the heavy metal attacking team that opponents fear and back to being a team that wins trophies. That is the football I know how to play and that is the identity that needs to be recovered and kept for good. It cannot be negotiable and everyone that joins this club should adapt to it. Winning some games here and there is not what Liverpool should be about. All teams win games. Liverpool will always be a club that means a great deal to me and to my family. I want to see it succeed for long after I have moved on. As I’ve always said, qualifying to next season’s Champions League is the bare minimum and I will do everything I can to make that happen.

    243K44K9.9K8.1K18M viewsView on X
  • Apr 25, 2026402x their median

    JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

    21K3.0K1.8K9.5K11M viewsView on X
  • Feb 17, 2026277x their median

    BREAKING NEWS | The crescent moon has been sighted in Saudi Arabia. Therefore, Ramadhān 1447 will begin tonight. May Allāh ﷻ accept our siyām, qiyām & acts of worship, and may He grant us the ability to utilise the precious moments of this Blessed month to engage in that which pleases Him. Aameen.

    17K5.7K5286891.5M viewsView on X
  • Feb 15, 202626x their median

    Sini gue ceritain.. ngapa Muhammadiyah itu bisa beda sendiri awal puasanya. 1. Kita tahu semua Muhammadiyah memakai hisab dalam menentukan bulan-bulan Hijriyah, termasuk dalam awal/akhir Ramadahan dan awal Dzulhijjah. Dan pendapat mereka ini tidak sendiri, ada Syekh Ahmad Muhammad Syakir dari Mesir, pentahqiq kitab Ar Risalah Imam Asy Syafi'i yang berpendapat demikian. 2. Dulu, hisabnya itu pakai metode WH (Wujudul Hilal) yang hanya berlaku untuk Indonesia saja. Jadi, kalau ada hilal di manapun di wilayah Indonesia, maka Indonesia sudah masuk bulan baru. 3. Sekarang, Muhammadiyah berubah metode melalui ijtihad (bukan rapat-red) dengan menggunakan KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal). Intinya metode ini adalah di mana pun di DUNIA ini yang sudah muncul hilalnya (dengan kategori elongasi 8 derajat dan tinggi hilal 5 derajat), maka sudah masuk bulan baru untuk SELURUH DUNIA. Nah, disinilah mengapa Muhammadiyah itu puasa lebih cepat satu hari daripada yang lain. Karena di tanggal 17 Februari itu, menurut Muhammadiyah sudah nampak hilal di kota Port Heiden, dataran benua Amerika. Karena sudah nampak di sana, berdasarkan poin ketiga di atas, maka seluruh dunia dianggap sudah masuk bulan baru. Berbeda dengan pemerintah Indonesia yang kemungkinan besar akan puasa di tanggal 19 Februari. Kenapa? Karena memang baru di tanggal 18 Februari sore itu, hilal nampak di salah satu daerah Indonesia. Kalau diringkas lagi.... Muhammadiyah itu menganut pendapat ittihad al mathali (satu dunia, satu tanggal) sedangkan yang lain menganut ikhtilaf al mathali (setiap regional itu memiliki penanggalan sendiri). Jadi gimana? Pilih puasa tanggal 18 atau 19 Februari? 😃

    1.7K4069139212K viewsView on X
  • May 10, 202625x their median

    Allah Belum Selesai Menulis Ceritamu Jadi gini… “Kalau aja dulu saya diterima di situ, mungkin hidup saya udah hancur sekarang.” Pernah nggak sih kamu mikir gitu? Dulu kamu nangis karena ditolak, dipecat, ditinggal, atau gagal total. Eh pas dilihat lagi, justru itu yang nyelamatin kamu. Yang kamu kira mimpi buruk, ternyata malah jadi penyelamat diam-diam. Pertemuan kecil yang kamu anggap biasa aja, bisa-bisa ubah seluruh arah hidup kamu. Hidup emang nggak sesederhana “berhasil” atau “gagal” di satu titik doang. Dalam Islam, hidup itu bukan foto statis. Ini film panjang yang terus muter. Al-Qur’an berulang kali bilang: jangan buru-buru judge kejadian. Lihat Nabi Yusuf. Dibuang ke sumur? Tamat riwayat. Dijual budak? Masa depan gelap. Dipenjara? Kelar sudah. Tapi sumur itu justru tangga naik. Penjara itu malah pintu menuju kekuasaan. Satu episode nggak pernah jadi ending cerita. Gimana dengan kamu? Apa sumur versi kamu yang bikin kamu merasa dibuang? Yang bikin orang depresi itu bukan susahnya. Tapi karena dia kira susah itu ada di seluruh hidupnya. Padahal hidup masih gerak terus. Hari ini kamu diremehin? Bisa aja besok orang-orang yang dulu ngomong “dia nggak akan jadi apa-apa” justru antri minta nasihat sama kamu. Hari ini kamu dipecat? Bisa jadi paksaan buat nemuin potensi yang selama ini kamu kubur. Hari ini patah hati parah? Nanti kamu ketawa sendiri inget betapa “duniamu runtuh” cuma karena orang yang ternyata nggak seharusnya kamu pertahankan. Dulu kamu buat keputusan salah dalam hidup kamu sampai orang lain ikut susah? Iya, tapi bukan berarti otomatis kamu selamanya jadi orang jahat. Kamu masih bisa kok memperbaikinya. Imam Al-Ghazali bilang, manusia sering ketipu sama pandangan sesaat. Seolah ya guys…Kita lihat hidup cuma dari lubang kunci, lalu langsung ngomong “game over”. Padahal waktu itu guru terbaik. Jadi jangan terlalu sombong pas lagi di atas. Jangan juga hancur lebur pas lagi di bawah. Cerita kamu belum tamat. Banyak hal yang baru kamu pahami bertahun-tahun kemudian. Dan sering kali, yang kamu sebut “kehancuran” dulu, ternyata cuma pintu masuk ke versi kamu yang jauh lebih baik. Santai aja. Allah masih nulis lanjutan ceritanya… Tabik, Nadirsyah Hosen

    1.6K481402950K viewsView on X
  • Mar 4, 202621x their median

    Benarkah Nabi Mengabarkan Yahudi Israel dan Syiah Iran Akan Bersatu Mengikuti Dajjal? Belakangan ini beredar kembali postingan yang mengaitkan konflik Israel–Amerika melawan Iran dengan sebuah hadis dari Sahih Muslim. Hadis yang sering dikutip adalah: يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْفَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ Artinya: “Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan yang mengenakan ṭayālisah (sejenis jubah atau selendang).” (HR. Muslim) Hadis ini memang sahih dan termasuk hadis eskatologis, yaitu hadis yang berbicara tentang fitnah akhir zaman. Masalahnya bukan pada hadisnya. Masalahnya pada narasi yang dibangun di sekeliling hadis ini. Sebagian orang kemudian menyimpulkan: “Tidak usah heran dengan perang hari ini. Sekarang saja mereka konflik tapi nanti mereka akan kompak menjadi musuh Islam. Rasulullah sudah mengabarkan bahwa Yahudi dan Syiah pada akhirnya akan bersatu mengikuti Dajjal.” Sekilas terdengar meyakinkan. Padahal kalau kita baca hadisnya dengan teliti, narasi ini tidak berasal dari hadis tersebut. Nabi tidak pernah menyebut Syiah Hadis itu hanya mengatakan: “Yahudi dari Isfahan.” Memang benar Isfahan hari ini berada di wilayah Iran. Dan benar pula Iran modern mayoritas bermazhab Syiah. Namun menyimpulkan bahwa hadis itu berbicara tentang Syiah adalah lompatan logika yang terlalu jauh. Pertama, penyebutan Isfahan dalam hadis itu bersifat geografis, bukan ideologis atau mazhab. Kedua, siapa yang bisa menjamin bahwa wilayah tertentu akan tetap berada di bawah identitas mazhab yang sama hingga akhir zaman? Sejarah menunjukkan wilayah, bangsa, dan mazhab bisa berubah berkali-kali. Karena itu menjadikan hadis ini sebagai bukti “koalisi Yahudi–Syiah” jelas bukan berasal dari teks hadis, melainkan dari cara kita menafsirkannya. Hadis tidak selalu menyebut nama bangsa secara eksplisit Dalam hadis lain tentang akhir zaman disebutkan bahwa pengikut Dajjal memiliki wajah: “seperti perisai yang dipukul.” Sebagian ulama klasik mencoba memahami deskripsi ini. Misalnya Ibn Kathir berpendapat bahwa kemungkinan yang dimaksud adalah bangsa Turk. Tetapi penting dicatat: Nabi tidak pernah menyebut kata “Turk” dalam hadis itu. Itu adalah interpretasi ulama, bukan teks hadis. Dan istilah Turk dalam literatur klasik juga bukan berarti negara Turki modern. Yang dimaksud adalah bangsa-bangsa Turkic di Asia Tengah, suku-suku nomadik yang hidup di wilayah luas seperti Turkestan dan Transoxiana. Ini menunjukkan satu hal penting: tafsir ulama selalu terkait dengan konteks zaman mereka. Nama wilayah dalam hadis tidak sama dengan peta politik modern Hadis-hadis akhir zaman juga sering menyebut nama wilayah seperti: Khurasan – Wilayah luas di Asia Tengah dan Timur Persia pada masa klasik, mencakup sebagian besar Iran timur laut, Afghanistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Tajikistan. Syam – yang dulu meliputi Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon. Rum – Merujuk pada Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), yang berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul). Semua istilah ini adalah geografi dunia klasik, bukan batas negara modern seperti yang kita kenal hari ini. Batas wilayah dalam sejarah bisa berubah berkali-kali. Dan bisa saja berubah lagi di masa depan. Karena itu membaca hadis-hadis ini dengan peta politik hari ini sering kali justru menyesatkan. Bahaya membaca hadis untuk membenarkan asumsi kita Masalah terbesar muncul ketika hadis tidak lagi dibaca untuk memahami pesan Nabi, tetapi dipakai untuk menguatkan asumsi dan opini yang sudah kita miliki sebelumnya. Lalu kita berkata: “Lihat, Nabi sudah mengabarkan ini sejak dulu.” Padahal yang terjadi sebenarnya adalah: kita memasukkan asumsi dan opini kita ke dalam hadis, lalu mengklaim bahwa itu berasal dari Nabi. Parahnya lagi asumsi kita itu bisa saja dipenuhi dengan kebencian pada mazhab atau kelompok tertentu. Ini bukan cara membaca hadis yang sehat. 1/2

    1.2K448952380K viewsView on X
  • Feb 16, 20268.1x their median

    Yang secara geografis global itu beragam, kenapa harus dipaksakan sama? Ru’yah global saja bermasalah kok, apalagi mau pakai hisab global. Patokannya sih dua saja: ikuti ru’yah/hisab lokal, dan ikuti otoritas setempat. Sesederhana itu sebetulnya urusan penetapan 1 Ramadan/Syawal/Zulhijah ini. Jadi rumit karena sains diletakkan di atas fiqh. Yang lokal beragam mau disatukan secara global, lewat sains. Akhirnya penanggalan dipaksa sama dan seragam atas nama sains, padahal agama tidak menuntut harus diseragamkan satu dunia. Ironisnya, akan ada yg memulai puasa di subuh tgl 18 Feb dan tarawih di tgl 17 Feb padahal bulan dimanapun saat itu dengan kriteria globalnya belum terlihat baik secara hisab maupun ru’yah. Wa Allahu a’lam bis shawab

    4681171181052K viewsView on X
  • Jul 24, 20266.4x their median

    Ibadah yang paling utama itu ternyata….(Simak Yuk Penjelasannya🙏🏻) Ada cukup banyak hadis yang menggunakan ungkapan أفضل الأعمال (amal paling utama) atau أفضل العبادة (ibadah paling utama). Namun, perlu dibedakan bahwa Nabi Muhammad sering kasih jawaban yang berbeda sesuai konteks perbincangan. Karena itu, para ulama seperti Imam al-Nawawi dan Ibn Hajar menjelaskan bahwa “yang paling utama” (afdhal) bisa bersifat relatif, bergantung pada keadaan, kebutuhan, dan siapa yang bertanya kepada Nabi. Kali ini saya hendak menyodorkan satu hadis yang jarang dibahas: سَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ، وَأَفْضَلُ الْعِبَادَةِ انْتِظَارُ الْفَرَجِ Dalam hadis riwayat Imam at-Tirmidzi ini Nabi mengajarkan kita untuk selalu berdoa meminta kepada Allah. Alasannya? Karena Allah itu senang hambaNya meminta. Jadi, gak usah minder, takut atau berburuk sangka. Minta kepada Allah apa yang kita inginkan. Apalagi ini hari Jum’at. Yuk banyakin doa. Tapi gimana kalau belum terkabul juga? Kalimat terakhir dalam sabda Nabi di atas benar-benar bikin kita merunduk haru. Nabi bilang gini: “Dan ibadah yang paling utama adalah menanti saat Allah membukakan jalan keluar” Ternyata menunggu saat doa terkabul, saat Allah memudahkan urusan kita, atau saat Allah memberi kita jalan keluar itu juga bagian dari ibadah. Bahkan disebut oleh Nabi sebagai termasuk ibadah yang afdhal (paling utama). Karena saat menanti itu banyak orang yang putus asa. Banyak yang marah-marah gak sabaran. Banyak yang tidak lagi mau mendekati Allah. Bahkan banyak yang berburuk sangka akan keadilan & kasih sayang Allah. Tapi Nabi ngasih tahu kita. Proses kita menanti dengan terus berusaha, berdoa dan tidak membuat tindakan yang merusak hidup kita, itu dicatat sebagai ibadah yang paling utama. Jadi, untuk kita semua yang tengah menanti datangnya pertolongan Allah…. Ya Allah, jangan biarkan kami lelah mengetuk pintu-Mu. Karuniakan kepada kami hati yang sabar menanti pertolongan-Mu, hingga Engkau membukakan bagi kami jalan keluar yang paling indah. Amin Ya Mujib as-Sailin Tabik, Nadirsyah Hosen

    44410410620K viewsView on X
  • Feb 15, 20266.2x their median

    Perbedaan waktu Indonesia dengan Saudi 4 jam. InsyaAllah sesuai keputusan Muhammadiyah saya mulai puasa di 18 Pebruari 2026. https://t.co/ge5YRlZ2U3

    352769720219K viewsView on X
  • May 1, 20265.3x their median

    Kenapa Allah Tidak Selalu Menghilangkan Masalah Kita? Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa dikelilingi api. Bukan api yang terlihat, tapi yang terasa: tekanan, kehilangan, kegagalan, pengkhianatan, atau kecemasan yang tak kunjung reda. Kita sering berdoa agar api itu dipadamkan. Kita ingin masalahnya hilang. Kita ingin semuanya selesai. Namun kisah Nabi Ibrahim mengajarkan sesuatu yang lebih dalam. “Kami berfirman: Wahai api, jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 69) Allah tidak memadamkan api itu. Api tetap menyala. Bara tetap ada. Kayu-kayu tetap terbakar. Tapi yang berubah adalah “rasa” terhadap api itu. Dalam penjelasan Tafsir at-Tabari disebutkan bahwa Allah menjadikan api itu dingin, dan tidak sekadar dingin, tapi juga “selamat” (salāman), agar dinginnya tidak membahayakan. Ini menegaskan bahwa api itu tetap menyala tapi tidak lagi menyakiti Ibrahim sama sekali. Kalau dari suhu panas lantas mendadak berubah menjadi suhu dingin, itu justru bisa bikin tubuh semakin hancur. Justru di situlah letak rahasianya. Allah tidak selalu menghilangkan masalah kita. Tapi Dia bisa mengubah cara kita “merasakan” masalah itu. Api tetap ada, tapi tidak lagi membakar jiwa. Tekanan tetap ada, tapi tidak lagi menghancurkan hati. Kita masih berada di tengah situasi yang sama, tapi batin kita tidak lagi hangus di dalamnya. Lalu Allah tidak berhenti di situ. Dia tidak hanya membuat kita “tidak sakit”, tapi juga “selamat”. Bukan sekadar bertahan, tapi dilindungi. Bukan hanya dingin, tapi juga aman. Kita ngarep kayak gini juga kan? 🙏🏻 Bukan sekadar: “Ya Allah, hilangkan masalah ini.” Tapi lebih dalam dari itu: “Ya Allah, jika masalah ini harus tetap ada, maka jadikan aku kuat di dalamnya. Jadikan hatiku sejuk. Dan jangan biarkan ia menghancurkanku.” Karena mungkin, keselamatan terbesar bukan ketika api itu padam. Tapi ketika kita berdiri di kobaran api masalah, dan tetap tenang serta selamat. Dan di titik itu, kita mulai mengerti apa artinya benar-benar dilindungi.​​​​​​​​​​​​​​​​ Mohon Engkau jangan tinggalkan kami barang sekejap matapun, Ya Rabb 🙏🏻😰 Met Jumatan guys… Tabik, Nadirsyah Hosen

    3561037111K viewsView on X

Ranked by total interactions across everything we have tracked for this account, which is a longer history than the 30-day window the rates above use. The multiple compares each post to this account's own median.

Buy or sell X accounts - escrow-protected

PlayerSells is an escrow marketplace for X accounts. Every deal is protected, with no middleman risk.

Reading these numbers

A typical post picks up 88 interactions against 464K followers, an engagement rate of 0.019%. Posts are seen about 7.6K times each, and 1.15% of those impressions turn into an interaction. That is about 1.64% of the follower count, which is the gap between an audience on paper and an audience in a timeline. Posting runs at about 0.23 posts a day over the last 30 days, though only 17% of days saw any activity at all. Most posts go out around 03:00 UTC, and Sunday is the busiest day of the week. Of the 2 posts sampled, 100% carry an image or video. The account's strongest tracked post pulled 304K interactions, about 3457x its own typical post. Only 2 original posts have been captured so far, fewer than the 8 posts we want behind a median before treating it as settled. Read the figures above as an early measurement of this account, not as a finished profile of it.

What is Nadirsyah Hosen's engagement rate on X?
Nadirsyah Hosen (@na_dirs) has an engagement rate of 0.019%, based on the median interactions across 2 original posts from the last 30 days against 464,451 followers. Replies, reposts and quote-posts of other people are excluded from that sample.
Is that a good engagement rate?
At 0.019%, Nadirsyah Hosen sits above the 25th percentile of the 36,654 accounts in this comparison. Those comparison accounts are all large ones, because our scanning cadence is weighted towards big accounts, so this is a ranking among peers of similar scale rather than a ranking across X.
Does @na_dirs have real engagement?
There is not yet enough sample to rank this account against others of its size.
When does @na_dirs post?
Most posts go out around 03:00 UTC, and Sunday is its busiest day, at roughly 0.23 posts per day across the measured window.

Keep going