dr. Gia Pratama engagement report
@GiaPratamaMD - 374K followers on X
Measured over 5 original posts from a 30-day window, last computed on September 1, 2026.
Engagement
Early reading. We have captured 5 original posts for this account, below the 8 we require before treating a median as settled. The numbers above describe what we have seen so far, not a finished profile of the account.
A typical post picks up 560 interactions against 374K followers, an engagement rate of 0.15%. Posts are seen about 22K times each, and 2.54% of those impressions turn into an interaction. That is about 5.89% of the follower count, which is the gap between an audience on paper and an audience in a timeline. Posting runs at about 0.17 posts a day over the last 30 days, though only 13% of days saw any activity at all. Most posts go out around 04:00 UTC, and Monday is the busiest day of the week. Of the 5 posts sampled, 40% link out. The account's strongest tracked post pulled 25K interactions, about 44x its own typical post. Only 5 original posts have been captured so far, fewer than the 8 posts we want behind a median before treating it as settled. Read the figures above as an early measurement of this account, not as a finished profile of it.
Measured over 5 original posts from a 30-day window, last computed on September 1, 2026.
Where this sits in the catalog
At 0.15%, dr. Gia Pratama sits above the 50th percentile of the 41,462 accounts in this comparison. That places it in the above the median band, which runs 0.083% to 0.446%.
Show the percentile table
| Percentile | Engagement rate |
|---|---|
| 10th percentile | 0.002% |
| 25th percentile | 0.013% |
| 50th percentile | 0.083% |
| 75th percentile | 0.446% |
| 90th percentile | 2.07% |
| 99th percentile | 143.9% |
This ruler is the whole measured catalog, not a size-matched group: it shows where the raw rate falls across every account we can measure, all of which are large. For a like-for-like comparison, read the size-band percentile above instead. See how the bands are built
Posting timing
This account posts most often around 04:00 UTC, and Monday is its busiest day of the week. The bars below are the catalog-wide pattern, with this account's own busiest slot marked. They do not show how this account performs at each hour: we keep one aggregate per account, not one per hour, so that measurement does not exist in our data.
Show engagement by hour posted, utc as a table
| Hour (UTC) | Vs author median | Posts |
|---|---|---|
| 00:00 UTC | -1% | 58K |
| 01:00 UTC | -2% | 59K |
| 02:00 UTC | -3% | 57K |
| 03:00 UTC | -4% | 61K |
| 04:00 UTC | -6% | 49K |
| 05:00 UTC | -4% | 48K |
| 06:00 UTC | -5% | 55K |
| 07:00 UTC | -4% | 59K |
| 08:00 UTC | -4% | 69K |
| 09:00 UTC | -4% | 80K |
| 10:00 UTC | -3% | 83K |
| 11:00 UTC | -3% | 90K |
| 12:00 UTC | -2% | 99K |
| 13:00 UTC | -2% | 108K |
| 14:00 UTC | -4% | 111K |
| 15:00 UTC | -2% | 115K |
| 16:00 UTC | -4% | 112K |
| 17:00 UTC | -3% | 104K |
| 18:00 UTC | -2% | 97K |
| 19:00 UTC | -2% | 92K |
| 20:00 UTC | -1% | 86K |
| 21:00 UTC | -1% | 76K |
| 22:00 UTC | -2% | 65K |
| 23:00 UTC | -1% | 59K |
Show engagement by day of week as a table
| Day | Vs author median | Posts |
|---|---|---|
| Sunday | +5% | 254K |
| Monday | +2% | 326K |
| Tuesday | -2% | 350K |
| Wednesday | -4% | 312K |
| Thursday | -2% | 265K |
| Friday | -3% | 274K |
| Saturday | +3% | 248K |
Best tweets
- Jul 10, 202644x their median
Dulu aku pikir, menikah itu ibadah terpanjang dan terlama. Ternyata salah, ibadah terpanjang dan terlama itu menjadi Warga Negara Indonesia. 😊
- Jun 17, 202634x their median
Teman-teman, saya ingin menjelaskan menstruasi kepada para laki-laki. Sebagian laki-laki mengira menstruasi hanyalah beberapa hari rasa tidak nyaman, sedikit perubahan mood, lalu selesai. Padahal, jarang sekali yang benar-benar menghitungnya. Seorang perempuan berada dalam masa subur itu kurang lebih selama 40 tahun. Menstruasi datang sekitar setiap 28 hari. Artinya, dalam hidupnya, seorang perempuan mengalami sekitar 521 kali menstruasi. Setiap menstruasi berlangsung kurang lebih 5 hari. Jika dijumlahkan, itu sekitar 2.607 hari. Hampir 7 tahun hidupnya dilalui dalam keadaan berdarah. Dan bukan kiasan, dia benar-benar berdarah. Rata-rata darah yang dikeluarkan sekitar 80 mililiter. Jika dijumlahkan sepanjang hidup, jumlah darah terbuang mencapai sekitar 42 liter. Rata-rata tubuh kita berisi sekitar 5 liter darah. Empat puluh dua dibagi lima. Artinya, sepanjang hidupnya, seorang perempuan mengeluarkan darah setara lebih dari 8x seluruh darah dalam tubuhnya sendiri, Delapan volume darah tubuh keluar dari satu perempuan. Dan ada bagian yang lebih jarang dibicarakan. Ia memulai semua ini sejak usia 11 tahun. Sebelas tahun. Usia ketika sebagian besar dari kita masih belajar memahami tubuh sendiri. Ia menyembunyikan pembalut di balik lengan saat berjalan ke toilet. Berdoa agar darahnya tidak tembus ke rok. Mencari alasan kepada guru olahraga. Berbisik kepada teman-temannya. Malu luar biasa jika ada anak laki-laki yang tahu trus menertawakan. Lalu kebiasaan itu terbawa bertahun-tahun. Menyembunyikan. Menutupi. Berpura-pura semuanya baik-baik saja. Di sekolah. Di tempat kerja. Saat bepergian. Di ruang rapat. Di tengah kesibukan. Di setiap ruangan yang ia masuki. Ia bisa sedang nyeri, lelah, tidak nyaman, bahkan cemas darahnya tembus. Namun tetap tersenyum. Tetap bekerja. Tetap terlihat baik-baik saja. Tujuh tahun perdarahan. Empat puluh tahun belajar menyembunyikannya. Lalu sebagian laki-laki masih menyebutnya, “Ah, cuma moody sebulan sekali.” Bahkan bikin kepanjangan baru dari PMS, "Prepare to Meet Satan." Teman-teman, tugas kita bukan memperbaiki semuanya. memang tidak akan bisa. Tugas kita adalah menjadi lebih dewasa dalam memahaminya. Belikan pembalut tanpa merasa aneh. Tanyakan apa yang ia butuhkan tanpa menghakimi. Jangan memasang wajah jijik. Jangan menjadikan menstruasi sebagai bahan candaan murahan. Jangan bertanya, “Lagi datang bulan ya?” dengan nada yang ngenyek merendahkan. Jangan membuat perempuan merasa tubuhnya adalah sesuatu yang harus disembunyikan. Ia sudah belajar menyembunyikannya sejak usia belasan tahun. Maka jadilah orang yang membuatnya merasa aman. Yang membuatnya merasa nyaman Yang membuatnya tidak perlu lagi bersembunyi.
- Apr 14, 202629x their median
Ada tanggung jawab yang datang untuk memperlihatkan seberapa luas pundakmu sebenarnya. Tekanan sering terasa berat, dimana seolah hidup sedang meminta terlalu banyak. Padahal justru karena langit tahu ada kapasitas besar yang dititipkan di dalam dirimu. Mungkin hari ini kamu belum melihatnya. Mungkin kamu masih merasa goyah. Tapi belum sadar, bukan berarti tidak punya. Pressure is privilege. Sebab tidak semua orang dipercayai memikul hal yang besar. Tidak semua orang diberi ruang untuk bertumbuh lewat beban yang besar. Dan Allah sudah lebih dulu menenangkan hati kita: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” QS. Al-Baqarah 2:286. Tarik napas dalam. Tenangkan hati. Jalani pelan-pelan. Kamu tidak dipilih untuk ini tanpa kemampuan. Kamu Son Goku yang belum tau bisa jadi Super Saiya 1, 2, dan 3.
- Apr 16, 202620x their median
Obat sakit hati 💔? Move on. Sadari apapun yang terjadi, Bumi tetap berputar. Sadari sakit hati hanya titik singgah diri untuk kebahagiaan yang haqiqi.
- Aug 5, 20269.3x their median
Teman-teman dokter, teman-teman nakes. Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi. Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional. Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien. Sakit itu Tidak Enak. Badan terasa asing. Pikiran penuh ketakutan. Waktu berjalan lebih lambat. Bahkan bagi kita yang setiap hari bekerja di rumah sakit, sejujurnya menjadi pasien adalah salah satu hal yang paling kita takuti. Kita memahami keterbatasan fasilitas. Kita tahu rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS. Kita mengerti perpindahan kamar membutuhkan proses. Kita tahu padatnya IGD, rumitnya rawat inap, dan betapa banyak hal harus dikerjakan dalam waktu bersamaan. Kita tahu semua itu. Tapi pasien kan enggak. Pasien hanya melihat keluarganya kesakitan. hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, berapa lama harus menunggu, dan apakah ada seseorang yang sungguh peduli kepada mereka. Sering kali, cukup kata-kata kita, “Mohon maaf ya, Pak, Bu. Saat ini prosesnya masih berjalan. Kami masih menunggu kamar tersedia. Perkiraannya sekitar satu jam (atau berapapun jam) lagi. Kami akan terus memberi kabar.” Bagi orang yang sedang takut kejelasan adalah bentuk kasih sayang. Nada suara yang lembut adalah obat pertama. Penjelasan yang apa adanya itu membuat menunggu terasa lebih manusiawi. Hubungan kita dengan pasien tidak dibangun seperti hubungan atasan dan bawahan. Kita adalah partner. Kita berdiri di sisi yang sama, bahu-membahu melawan penyakit. Kita mengerjakan bagian kita dengan ilmu, keterampilan, dan hati. Pasien menjalankan bagiannya dengan kepercayaan, keberanian, dan kesabaran. Keduanya sama-sama berjuang. Dan ketika perjuangan itu berhasil, ketika seorang pasien sembuh dan akhirnya pulang, kembali memeluk keluarganya, kembali bekerja, kembali menjalani hidupnya, itu perasaan BAHAGIA yang tiada dua. Itulah salah satu alasan kita memilih jalan ini. Lalu ketika ada pasien menyampaikan keluhan di media sosial, bahkan ketika nama rumah sakit atau BPJS ikut disebut, mengapa kita harus begitu mudah tersulut? Mengapa kelelahan kerja harus dituangkan menjadi kata-kata yang kejam dan jahat? Lelah dapat dipahami. Marah dapat terjadi. Frustrasi adalah bagian dari hidup. Namun Merendahkan pasien, Mempermalukan orang yang sedang sakit, atau melontarkan kalimat yang melukai martabat manusia, tidak memiliki pembenaran dari sisi mana pun. Pasien kan salah satu jalan datangnya rezeki kita. Allah selalu mengirimkan rezeki melalui tangan manusia. Dan rezeki kita, para tenaga kesehatan, datang melalui manusia yang sedang sakit, takut, rapuh,dan membutuhkan pertolongan. Maka sesungguhnya pasien adalah ladang karunia kita. Melalui mereka, ilmu kita memiliki arti. Melalui mereka, tangan kita dapat menolong. Melalui mereka, kesabaran kita dilatih. Melalui mereka pula, terbuka begitu banyak kesempatan untuk mendapatkan pahala. Jadi ayo kita sayangi pasien-pasien kita. Bagi kita, mungkin mereka adalah pasien ke empat puluh hari itu. Namun bagi mereka, hari itu mungkin adalah salah satu hari paling menakutkan dalam hidupnya. Pertolongan kita harus selalu dimulai dari rasa kemanusiaan.
- Apr 23, 20267.3x their median
"Dok, saya capek terus." Kalimat yang hampir setiap hari saya dengar di RS. Biasanya saya tidak langsung meresepkan apa-apa. Saya perhatikan dulu. Matanya lelah. Cara duduknya seperti menahan beban di punggung. Pegal, katanya. Sudah lama. Sudah berobat. Sudah mencoba macam-macam. Tapi keluhannya berulang terus. Indonesia itu terang. Matahari datang pagi-pagi, bertahan sampai sore, dan kadang senja pun seperti enggan pergi. Tapi di rs, saya sering menemukan hal yang sama: Kadar vitamin D yang rendah. Pada pasien yang tinggal di negeri paling yang mataharinya bisa sepanjang tahun sekalipun. Melihat matahari dan disentuh matahari adalah dua hal yang berbeda. Vitamin D terproduksi dari kulit yang disapa cahaya. Lalu ia berjalan jauh, diolah di hati, diaktifkan di ginjal, sebelum akhirnya bekerja. Membantu kalsium duduk rapi di tulang. Menjaga otot agar tidak terlalu cepat mengeluh. Menopang tubuh yang kita pakai setiap hari, tanpa pernah kita ucapkan terima kasih. Ketika kadarnya kurang, tubuh mulai mengirim 'surat.' Pegal yang datang tanpa sebab. Lelah yang tidak sembuh oleh tidur. Otot yang terasa berat padahal tidak mengangkat apa-apa. Nyeri tulang yang tersirat, seperti bisikan yang tidak mau hilang. Surat-surat itu sering kita abaikan. Kita sering berangkat saat langit masih gelap. Pulang saat matahari sudah pamit. Duduk di Ruangan ber-AC. Jendela tertutup. Tirai tebal. Kulit yang tidak pernah disentuh matahari, tidak pernah punya kesempatan membentuk vitamin D. Matahari melimpah tetapi tidak sampai ke kita. Anjuran asupan harian vitamin D cukup sederhana. *600 IU per hari.* Angka yang IDAI anjurkan sejak usia 1 tahun. Kecil. Tapi baiknya setiap hari. Dan di situlah banyak orang tidak berhasil. Bukan karena tidak mau, tetapi karena konsistensi memang seni yang tidak banyak orang kuasai. Saya sering menyarankan bentuk yang tidak membuat orang menyerah di minggu kedua. Vitamin D yang dalam bentuk gummy, satu butir sehari, rasa yang bersahabat, tanpa drama menelan. Opsi bentuk lain ada, Tapi yang paling baik adalah yang benar-benar kita minum. Bukan yg dibeli lalu diletakkan begitu saja. Tubuh kita jarang berteriak. Ia hanya berbisik, lewat pegal yang pulang-pergi, lewat lelah yang tidak masuk akal. Dan yang ia minta bukan obat yang rumit. Hanya fondasi kecil yang kita jaga konsistensinya setiap hari.
- Jun 25, 20263.7x their median
Teman-teman yang sedang berjuang untuk hidup lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih sejahtera, izinkan saya menitipkan sedikit pemikiran untuk kita renungkan bersama. Nomor 1, pikiran kita sering menciptakan cerita yang terasa sangat benar. Kita sering merasa sedang melihat kenyataan apa adanya. Padahal, di dalam kepala kita, ada narasi yang terus bekerja. Pikiran kita menafsirkan kejadian, memberi makna, lalu membentuk cerita. Sebagian cerita itu lahir dari pengalaman lama, luka yang belum selesai, rasa takut, bias, dan emosi yang masih tertinggal di dalam diri. Karena itu, semua yang kita pikirkan JANGAN langsung kita percaya. Sebagian perlu kita periksa ulang dengan tenang. Nomor 2, hal yang kita hindari justru akan mengendalikan hidup kita. Menghindar memang terasa melegakan di awal. Rasanya aman, rasanya ringan, rasanya kita sedang menyelamatkan diri. Namun setiap kali kita lari dari rasa tidak nyaman, kita sedang memberi makan rasa takut, rasa malu, kebiasaan menunda, atau luka yang seharusnya mulai kita sembuhkan. Nomor 3, kita dibentuk oleh apa yang terus kita ulangi. Identitas tidak terbentuk dari harapan indah yang kita simpan di kepala. Identitas tumbuh dari kebiasaan kecil yang rutin kita lakukan. Cara kita berpikir, cara kita merespons masalah, cara kita menjaga janji, cara kita bekerja ketika tidak ada yang melihat, semuanya perlahan membentuk diri kita. Pada akhirnya, kita menjadi hasil dari latihan yang kita ulangi terus-menerus. Nomor 4, emosi adalah bagian dari diri kita, tetapi hidup kita tetap perlu dipimpin oleh kesadaran. sedih, takut, marah, kecewa, atau cemas adalah bagian dari spektrum emosi kemanusiaan. Emosi perlu didengar, diberi nama, dan dipahami. Namun emosi juga perlu dituntun. Kesehatan mental tumbuh ketika kita mampu mengenali apa yang sedang kita rasakan, menahannya dengan dewasa, lalu menggunakannya sebagai petunjuk, bukan membiarkannya mengambil alih seluruh keputusan.
- Jul 15, 20263.6x their median
“Dok, kenapa sih selalu positive vibes?” Aku cuma bisa tersenyum. Lalu menjawab dalam hati, Ya Karena aku paham, hidup ini seperti garis bilangan. … -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3 … Di tengah ada angka nol. Di sebelah kanan, ada angka positif menuju plus tak terhingga. Di sebelah kiri, ada angka negatif yang terus bergerak menuju minus tak terhingga. Hidup kita juga begitu. Ada masa kita berada jauh di sebelah kanan. Hati bahagia. Badan sehat. Keluarga baik-baik saja. Pekerjaan lancar. Hari terasa ringan. Namun setiap hari, dari pasien-pasienku dan dari hidupku sendiri, aku belajar satu hal: Hidup SELALU punya cara untuk mengurangi. Waktu mengurangi tenaga. Kekecewaan mengurangi semangat. Kegagalan mengurangi percaya diri. Kehilangan mengurangi sebagian isi hati. Masalah kadang datang satu per satu. Kadang datang bertubi-tubi seperti sudah janjian. Dulu aku mengenal peribahasa, 'Sudah jatuh, tertimpa tangga.' Aku pikir itu sudah cukup buruk. Ternyata masih ada kemungkinan tanahnya ikut ambles. Saat seseorang berkata, 'Sepertinya ini sudah menjadi titik terburuk dalam hidupku.' Kehidupan kadang masih menyeringai, “Ooh tentu tidak, ini belum seberapa." Karena itu, aku belajar untuk terus menambah. Menambah ilmu. Menambah iman. Menambah kesehatan. Menambah rasa syukur. Menambah tabungan. Menambah teman-teman baik. Menambah keberanian. Menambah ketenangan. Sebab kita hampir selalu gagal mengendalikan apa yang akan hidup kurangi. Namun kita masih bisa memilih apa yang kita tambahkan setiap hari. Jadi, positive vibes aku itu bukan berarti hidupku selalu indah. Aku juga pernah lelah. Aku juga pernah kecewa. Aku juga pernah merasa hampir habis. Positive vibes adalah usaha menjaga diri agar tetap berada di sisi positif garis bilangan. Agar saat hidup mengambil sepuluh, kita masih punya seratus. Saat hidup mengambil seratus, kita masih tetep di atas 0 dan memiliki alasan untuk berdiri sekali lagi. Serta tetap mampu memberikan harapan untuk banyak orang.
- Jul 25, 20263.3x their median
Saya percaya, keadaan Indonesia akan berubah ketika kita ikut berubah. Saya kurang tertarik pada politik. Namun politik selalu tertarik pada hidup saya. Ia menentukan harga semua, mutu sekolah, kualitas rumah sakit, bahkan udara yang kita hirup. Politik adalah kebijakan. Pengambil kebijakannya adalah Politisi. Kebijakan lahir dari adu kepentingan Politisi. Dan hampir semua politisi punya kepentingan yang sama: ingin dipilih kembali oleh kita. Karena itu, wajah politik adalah cermin masyarakatnya. Korupsi tumbuh dari budaya aji mumpung. Mumpung punya jabatan, ambil bagian. Mumpung ada kesempatan, cari keuntungan. Mumpung kelompok sendiri berkuasa, kesalahan pun dibela. Kita marah pada koruptor besar, tetapi sering memaklumi kecurangan kecil. Menyerobot antrean, menitip absen, menyuap agar urusan cepat, mengambil yang bukan hak, lalu menyebutnya “rezeki”. Perubahan negeri ini mungkin bermula dari satu hal yang mulai hilang: rasa malu. Malu berbuat curang. Malu menyalahgunakan kuasa. Malu menjual suara. Malu membela kesalahan karena satu golongan. Negeri ini akan berubah saat kita berhenti menunggu orang baik, lalu memilih menjadi salah satunya. Sebab politik mengikuti budaya. Dan budaya berubah ketika kita berubah.
- Jul 3, 20262.9x their median
Juli, J-nya apa? Jangan dulu lelah. Jangan dulu menyerah. Jalani saja selangkah demi selangkah bersama. Jawaban terbaik yang kita tunggu sedang mendekat.
Ranked by total interactions across everything we have tracked for this account, which is a longer history than the 30-day window the rates above use. The multiple compares each post to this account's own median.
Buy or sell X accounts - escrow-protected
PlayerSells is an escrow marketplace for X accounts. Every deal is protected, with no middleman risk.
Reading these numbers
A typical post picks up 560 interactions against 374K followers, an engagement rate of 0.15%. Posts are seen about 22K times each, and 2.54% of those impressions turn into an interaction. That is about 5.89% of the follower count, which is the gap between an audience on paper and an audience in a timeline. Posting runs at about 0.17 posts a day over the last 30 days, though only 13% of days saw any activity at all. Most posts go out around 04:00 UTC, and Monday is the busiest day of the week. Of the 5 posts sampled, 40% link out. The account's strongest tracked post pulled 25K interactions, about 44x its own typical post. Only 5 original posts have been captured so far, fewer than the 8 posts we want behind a median before treating it as settled. Read the figures above as an early measurement of this account, not as a finished profile of it.
- What is dr. Gia Pratama's engagement rate on X?
- dr. Gia Pratama (@GiaPratamaMD) has an engagement rate of 0.15%, based on the median interactions across 5 original posts from the last 30 days against 373,739 followers. Replies, reposts and quote-posts of other people are excluded from that sample.
- Is that a good engagement rate?
- At 0.15%, dr. Gia Pratama sits above the 50th percentile of the 41,462 accounts in this comparison. Those comparison accounts are all large ones, because our scanning cadence is weighted towards big accounts, so this is a ranking among peers of similar scale rather than a ranking across X.
- Does @GiaPratamaMD have real engagement?
- There is not yet enough sample to rank this account against others of its size.
- When does @GiaPratamaMD post?
- Most posts go out around 04:00 UTC, and Monday is its busiest day, at roughly 0.17 posts per day across the measured window.